Sebuah Pengabdian

Right now, I in my duty to do KKN in, Desa Baru, Kecamatan Manggar, Belitung Timur, Kepulauan Bangka Belitung, Indonesia. Alhamdullilah dapat teman yang baik dan tidak neko-neko. Mereka orangnya memang agak unik-unik semuanya dan punya satu karakter yang sama yaitu ‘sak penakke dhewe’ atau seenaknya sendiri. Namun, sifat SPD yang kita miliki ini bukanlah sekedar seenaknya sendiri, namun tentunya disertai dengan tanggung jawab masing-masing.

Kami jarang bertengkar masalah dia tidak pernah kerja, dia sukanya kerja yang enak, aku gak cocok sama dia dan alasan-alasan lainnya. Setau kami, setiap orang punya cara kerja yang beda. Hal terpenting bukanlah menyamakan dan mengeneralisirkan cara kerja kami, melainkan bagaimana meraih satu tujuan yang sama walaupun dengan cara yang berbeda. Itulah kami, tim KKN UNS Belitung Timur angkatan pertama.

Mungkin para tetua desa tidak puas dengan cara dan hasil kerja KKN kami karena sebagian besar dari kami adalah anak manja yang sukanya tidur, makan dan main game. Namun jangan sedih, di puncak acara kami berhasil menyita perhatian Bupati Belitung Timur (saat itu Bapak Basuri Tjahya Purnama), beliau bahkan stay tune di pentas seni yang kami adakan walaupun seharusnya di tengah acara rencanya beliau harus cabut untuk menghadiri acara lain di Kecamatan Gantong (Kecamatan sebelah).

Untunglah kami bukan tipe anak-anak yang mudah bersedih dan gundah gulana saat dikatai ‘tim yang menyusahkan’. Tetap kuat seperti macan danone (sebenarnya cuek), jauh dari minder dan patah semangat (kata lain dari muka tembok) dan  yang terakhir keep moving on (yang sejujurnya adalah suka nglayap).

Tidak masalah kalau kita ini anak mama sukanya minta dimanja. Kata orang sana bangun pagi aja kita gak bisa. Suka makan tanpa jeda, habisin lauk gak kira-kira. Tapi ingat satu hal yang paling penting! Walaupun manja, kita suka bertanggung jawab, bikin acara yang paling mantap, ajarin bocah akting, nyanyi, nari tap tap tap tap, giliran dipentasin bikin bupati lupa tancap gasssss… *what do you think about my syllable 😀

Uniknya KKN kami ‘No Cinta-Cintaan’ segala yang terjadi di sana saat itu adalah murni persahabatan dan persaudaraan.

Oh ya kita juga bikin lagi judulnya sebuah pengabdian. Yah berharap bisa di royaltikan hahahaaaa nanti kalau ada waktu pasti ku posting di soundcloud.

Manggar, Belitung Timur.

Siapa Dia?

Selasa 5 Agt 2014, berkat seorang teman yang baik hati bernama Mba Bhrina, saya bisa ketemu dan kenal dengan penyiar-penyiar dan radio pro di Jakarta yang sangat mumpuni. Pertama Bang Radit, dia adalah sosok yang saya kagumi. Di usia 25 tahun dia sudah bisa menjadi Program Director yang mana saat ini ia adalah PD termuda di Jakarta. Dari dia saya belajar bagaimana meraih sesuatu. Semua orang juga tau meraih impian tidaklah mudah, namun untuk menjadi seorang yang dapat meraih mimpi itu harus tekun dan cerdas dalam membaca peluang.

Dia sudah sejak kuliah berkiprah di dunia radio komersial A.K.A Prambors Radio Semarang, sebagai penyiar. Dia cerita, saat masuk dunia kreatif kita tidak boleh menyembunyikan kemampuan kita. Keluarkan semuanya sampai atasan tau, setelah itu impression dia ke kita akan jadi baik. Jika sudah baik maka rekomendasipun akan muncul. Dari situlah awalnya ia mendapatkan citra yang baik sebagai seorang broadcaster.

Lanjut, setelah lulus kuliah ia pulang ke Jakarta dan melanjutkan karirnya di Jak FM. Saya lupa tapi ya dia jadi apa, yang penting masih manusia yang berkutat dengan dunia kreatif lah. Setelah itu ia pindah jadi program director di Global FM Jakarta, tempat saya magang. Satu minggu sebelum saya selesai magang dia pindah ke GEN FM. Beruntunglah saya masih sempat kenal selama 7 minggu dengan orang keren semacam dia.

Dari sepenggal perjalanan Bang Radit, saya sudah belajar banyak bagaimana cara jadi orang yang dibutuhkan. As He Said

“Jadilah orang yang bernilai, karena kalau lo bernilai gak ada alasan buat orang lain gak membutuhkan lo. Di situlah lo akan menjadi sosok yang kuat”

Quote ini yang selalu jadi pedoman saya, walaupun susah untuk mempraktekkannya. Kalau dijabarkan untuk menjadi orang kuat yang dibutuhkan kita harus punya nilai yang orang lain tidak miliki, sedangkan nilai itu ada banyak kalau dijabarkan. Well wisdom quote yang satu ini ajaib, nyata dan beruntungnya sulit untuk diperaktekkan. Suatu hal yang sulit pastilah sangat berharga bukan.

Cerita Bang Radit Sampai sini.

Selanjutnya saya ketemu dengan Bang Daud Tobing penyiar Indika FM. Orang yang humble tapi katanya kalau kumpul sama temen-temen dia cenderung menjadi pendengar yang baik. Mungkin karena udah puas ngobrol sama microphone kali ya, jadi kalau sama temen being a good listener not that bad even fun.

Dari dia saya belajar banyak tentang mencintai sesuatu. Selelah apapun dia tetap bekerja dan malamnya siaran. Katanya:

“Yah namanya cinta siaran” Jadi, apa yang dilakukan untuk cinta itu tidak akan terasa melelahkan. Walau yakin banget lah pasti kadang juga lelah bin capek.

But, never mind as long as we have that love, why not!

Bang Daud  selalu jadi orang yang ceria di depan atau di belakang microphone. Tidak juga kehilangan semangat yang menggebu ketika bertemu dengan penggemar (seperti kita) walaupun habis siaran. Yah, hidup ini sudah lelah kalau semuanya dibuat lelah gimana mau move on.

Hal yang paling saya ingat dia itu baik banget orangnya, dan tidak sok highy. Bahkan waktu kita berdua datang ke Indika bawain Dominoz dia bilang “yah kirain gorengan udah bayangin gorengan padahal. Gue mah ga bisa makan yang gini-ginian perut kampung huahahaha”. But I believe in my self mungkin dia juga sesekali akan pergi ke pizza hut bareng keluarga, duduk dan ngobrol cantik ala keluarga ibu kota. Not bad lah how to treat and comfort us, the way he said “udah bayangin gorengan” it’s mean that dia itu down to earth sekali.

Pelajaran yang bisa dipetik dari abang yang satu ini adalah: jangan lupa Tuhan walaupun hidup kita dikelilingi oleh kemewahan dan kemudahan. Dengan cara down to earth, humble dan buat senang orang lain bisa jadi salah satu cara untuk selalu ingat nikmat dan berkah Tuhan.

Dua manusia keren ini menempati urutan teratas dalam ranking ‘Pulie’s Cool Tutor’ karena nilai yang mereka ajarkan cukup sering melintas di benak ketika mulai berimajinasi dan melakukan sesuatu.

Thank you is nothing, my pray and best whises for both of you is real.

Catch The Smart Package

Magang adalah tempat untuk belajar jadi seorang pekerja seutuhnya. Menggabungkan teori dan kenyataan, jika dibayangkan cukup mudah namun cukup sulit untuk dipraktekkan. Kalau bisa di bilang saya punya skill yang appropriate untuk jadi seorang broadcaster yang pro. Namun, seorang PD menyadarkan saya bahwa have a good skill is not enough. Plus theory still not enough, then what should I add, is there any ingredients? Dia menjawab secara tidak langsung ‘Ya’!!!

Additional ingredientnya adalah mudah membaur dengan lingkungan. Bukan untuk cari muka, namun untuk melihat seberapa mampu kita ditempa sebuah lingkungan yang keras. Berbaur dengan pemikiran yang berbeda, berbaur dengan budaya yang berbeda dan berbaur dengan kenyataan yang cukup pahit. Hal tersebut saya namai ‘smart package’

Right now I realize that I don’t really catch that smart package. Saya masih jadi diri saya yang menutup tembok besar. Di situlah PD melihat kekurangan itu dan memberi tau untuk melayakkan diri jika ingin berbaur dengan dunia kerja pada layaknya. Little bit hard, yep but I can’t run away from the facts. It will probably repeat, no matter where I will stay.

Next post masih tentang magangan =>

Happy Internship

 

Banyak mahasiswa yang mengalami serangan kegalauan sebelum magang. Permasalahannya adalah sama dari dulu sampai sekarang, yaitu khawatir untuk membaur dengan senior dan dunia kerja yang nyata, khawatir dicuekin, khawatir dibully atau cuma disuruh fotocopy dan khawatir dengan suasanya yang baru.

Suatu hari kampus tempat saya kuliah mengadakan pembekalan magang yang salah satu pengisinya adalah mahasiswi keren, lucu, aktif di kegiatan bergengsi seperti menjadi seorang penyiar dan pernah menjadi pemenang essay APEC, ia juga punya banyal fans termasuk saya juga ikutan nge-fans. Dia adalah Mba Meg, saran yang diberikan mba-mba berbadan besar dengan wajah imut, cerdas, ceria dan menyenagkan ini sungguh sangat nempel di kepala. Dia berkata bahwa:

“Ga usah banya berekspekstasi, karena saatnya magang nanti kenyataan bakalan beda dengan apa yang diekspektasikan”

Dan kata-katanya memang terbukti, saya bahkan menjauhkan pikiran saya dari prediksi-prediksi menyenangkan dan menyedihkan saat magang. Pokoknya jalan terus maju liat yang ada di depan, lalu kerjakan apa yang ada di depan kita.

Magang juga kadang justru membuat kita sadar seberapa besar kemampuan kita sebenarnya. Bagi yang merasa sudah cukup ilmu untuk dihadapkan dengan Magang challengedari kampus, well you have to think twice! Karena nanti, pada kenyataannya ada saja yang kelihatan kurang dari diri kita.

Nah, setelah selesai magang barulah kita review kekurangan-kekurangan kita lalu memperbaikinya di semester selanjutnya. Dengan begitu saat lulus nanti kemungkinan kita juga sudah siap dengan masa depan baru yang menghadang.

Hutan Jakarta

 

Hari pertama magang di Global FM, hal yang paling membuat tidak nyaman bukan didalam kantor, melainkan di luar kantor. Jalanan padat, sesak, banyak pengendara motor yang tidak sabar sehingga mereka menggunakan trotoar untuk menyalip antrean. Suara klakson yang ramai, khas melodi Kota Jakarta ini seperti mendengar backsound film thriller.

Dilihat dari kenyamanan hidup Jakarta bukanlah sebuah pilihan, sedangkan untuk menempa kualitas diri Jakarta bisa jadi pilihan pertama. Well, I said to my self

“Welcome To The Junggle”

Memimpin Diri lalu Orang Lain

Indonesian Wisdom said

“Tata diri sendiri sebelum bisa menata orang lain”

Hal itu bukanlah omong kosong, karena saya baru saja mengalaminya. Menjadi seorang pemimpin bukanlah hal yang mudah untuk manusia, walau sebanarnya kodrat manusia memang menjadi seorang pemimpin. Kata memimpin itu masih terlalu luas. Seringnya memimpin itu akan identik dengan dua level yang bertingkat. Pertama memimpin diri sendiri, level selanjutnya barulah bisa memimpin orang lain.

Jika seseorang sudah bisa memimpin dirinya sendiri dalam artian menahan emosi, dan tidak memaksakan kehendak, maka ada kemungkina orang tersebut akan menjadi pemimpin yang baik.

Sayangnya yang terjadi dalam diri saya belum bisa menahan emosi dan masih memaksakan kehendak dengan ambisi yang meledak-ledak, sehingga menjadikan orang yang dipimpin menjadi berontak. Sebuah pesan dari orang yang lebih tua, ia berkata bahwa:

“Jika sekelompok orang belum siap untuk perubahan, maka merekapun akan menolaknya”

Jika saja saya mendengarkan nasihat itu, maka saya tidak akan memaksakan kehendak dan terlalu menggeneralisir ambisi orang lain dengan diri sendiri. Cekcok dan pemberontakan mungkin tidak akan terjadi.

Semester 5

Akhir semester 5 bisa dibilang semester nanggung, bukan awal, bukan akhir, bukan juga tengah semester. Rasanya campur aduk dan berasa hectic, saat ini masih banyak tanggungan dan semuanya belum juga beres.

Acara nge-MC pertandingan sepak bola Internasional dan perlu prepare skrip bahasa Inggris, ngapalin urutan pertandingan dan belajar menyebut nama-nama orang barat. Selain itu riset radio juga belum selesai, maklum jadi research director dadakan gara-gara radio komunitas kita sedang berusaha keras mencari dana untuk perbaikan pemancar. Selanjutnya, tanggal 26 Juli harus ke Jakarta untuk magang. Sebenarnya saya adalah tipe orang yang paling suka dengan kesibukan macam ini, karena berasa hidup ini worth it.

Disaat-saat seperti ini memang paling asik itu nongkrong bareng teman, sharing persiapan magang dan sedikit refreshing untuk menghilangkan penat. Sayangnya salah satu dari mereka sedang dilanda prahara kisah cinta. I think he can ignore that thing for a few minutes, tapi nyatanya tongkrongan kita berubah menjadi suram karena kediamannya. Well, semoga kisah cintanya akan baik-baik saja dan kembali bahagia seperti semula.

Akhir semester 5 ini ditutup dengan kesibukan yang menyenangkan dan prahara cinta Galih.